Minggu, 06 April 2014

PUNGGAWA TANAH AIR TAK TERSISA


Oleh : Mohammad Imam Junaidi

Engkau…
Engkaulah arwah yang menjerit
Engkaulah punggawa disakit
Engkaulah jiwa raya pemandu padu
            Setiap raga !, setiap darah !, setiap kringat !
            Dikebiri !, tumpah !, mengalir bertujuan nan kehilangan arah
            Direnggutlah jutaan ribu begitu….begitu mudah, begitu mudah
            Ketika hari ini mata bangsa begitu pekat  dalam lupa

LEBARANYA SEORANG VETERAN

Akulah Soedjono yang kesepian diantara gemerlapnya limunan hedonisme moderenisasi alam raya Indonesia. Begitu banyak cerita dalam jiwa ini tak mampu aku luapkan kesiapa pun meski kepada cucu tersayangku Riko yang sebentar lagi masuk dunia perkuliahan. Dahulu aku bertugas di wilayah Jawa Timur untuk menjaga keamanan setiap pelosok tempat yang dianggap darurat akibat ulah front pembela sosialisme. Sehingga aku jarang singgah kerumah lantaran tugas panggilanku selalu membarengi jabatanku sebagai seorang prajurit TNI.

DIKTAT GURU “SOK”


   Jenggotnya rumbuk, tumpukan siletlah saksi penggunndulan tiap bulunya. Songkok putihnya dianggap merakyat memasuki setiap kelas. Langkahnya cepat pertanda prakatanya-prakatanya yang mudah berlarian ke mana-mana menjajah otak siapa saja. Sok luas pemahamannya, sok kritis pemikirannya, pura-pura beridealisme tinggi sampai-samapi cueknya mengorbakan dan tak menghargai sesamenya. Tinggi siulanya; ratusan mahasiswa terpaksa mendengarnya.
      Seharusnya ia tak berhak demikian, tapi kebuataanya terhadap tahta dan jabatan telah membutakan hatinya. Apa yang benar menurutnya dianggap sudah benar dan diakui public sebagai kebenaran anggapnya. Siapa saja bakal mati olehnya. Tidak perduli mahasiswa itu aktif ngomong dikelas dengan berbagai landasan dasar terkuat, sering nggarap tugas, taat aturan kontrak kuliah, pandai berdealiktika.
    Kalau tidak ditusuk dengan nilai B, C ya D atau E karena inilah kres pamungkasnya. Akhirnya si mahasiswa terkapar, sekarat kebebasannya diambang danau negeri atas angin.
      Logat gesturnya terlihat lembut namun tak mau mengalah dalam diskusi. Bukan itu saja, dikritisipun malah merasa benar. Padahal system pendidkan yang ia terapkan ditolak tapi ia mungkin pura-pura tidak mengerti atas gunjingan. Kepuasan dirinya adalah mengintimidasi mahasiswa melalui nilai, dan ngrasani dari kelas ke kelas lainya, dari ruang ke ruang lainya, dari otak satu ke otak lainya.
    Aku paham betul kalau orang ini adalah keturunan kiyai. Dimana keturunan priyayi itu aku anggap bagus posisi wibawanya. Karenan biasanya “RA” (sebutan anak kiyai di Madura). Tapi sayang, orang ini malah tak paham tentang pentingnya menghargai niat orang lain, argument orang lain, tindakan orang lain, proses perkembangan orang lain. Iidealismenya berada dalam lingkaran idealisme onani. dia sok membuat aturan ini itu tapi dia sendiri tak amampu membuat perubahan untuk dirinya, keluarganya, jurusanya, fakultasnya, rektoriumnya, sistem kampusnya, kabupatenya. Kerjaanya menentukan hukum keadilan semaunya sendiri. Apakah orang ini tidak pernah muda ya…? mungkin saja tidak ! lalu kalau tidak pernah muda dia terlahir dari mana; batu, air, api, udara, atau apa?. 

BANGKALAN, 6 APRIL 2013

FENOMENA MAHASISWA SYARIAH

Hari-harinya dibangku kuliah berjalan seperti biasa saja, datang-pulang kuliah dan tidur kerjaannya. Tak perduli ada peristiwa apa di kampus, dia terlalu cuek. Jangankan tentang kampus urusan jurusan pun mereka tak perduli.

    Dari ujung kanan atau kiriku berderet sahabat se kelas serta adik tingkat yang hidup nrimo ing pandum. Meski tikat semester lebih tinggi namun tak ada beda pemikiran mereka dengan adik tingkatnya dan adik tingkatnya hampir sama pula dengan pemikiran anak SMA. Yang terjadi bila nilai ujian mereka dikebiri, hak mereka diconkel dilempar ke samudera otoriterisme, prilaku yang dibenteng-bentengi syariah pendidikan, setiap ucapan bibir yang ingin keluar dihujam sampai tak mampu berkicau. 

Selasa, 25 Maret 2014

Tata bahasa

6. Tata Bahasa a. Fungsi tata bahasa digunakan dengan taat asas dan tegas, sehingga subyek dan predikat harus selalu ada. b. Penggunaan ejaan dan istilah resmi. c. Bahasa yang digunakan bersih dari unsur dialek daerah, variasi bahasa Indonesia, dan bahasa asing yang belum dianggap sebagai unsur bahasa Indonesia, kecuali untuk istilah bidang ilmu tertentu. 7. Tanda Baca a. Tanda Titik (.), digunakan pada akhir kalimat, pada singkatan tertentu, sebagai pemisah bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah. b. Tanda Koma (,), digunakan untuk memisahkan angka desimal, pemisah unsur-unsur dalam suatu deret, untuk memisahkan unsur-unsur sisteksis dalam kalimat. c. Tanda Titik Koma (;), digunakan untuk memisahkan unsur-unsur sintaksis yang setara, atau dalam deret yang sudah mengandung tanda baca lain. d. Tanda Titik Dua (:),

Kamis, 06 Maret 2014

WARGA MIYAK BOJONEGORO

   
Perubahan Industri di Bojonegoro telah menunjukan identitasnya secara lebih menyeluruh sampai pada tataran warga pedesaan. Namun, ini menjadi suatu keanehan ketika domonasi masyarakt miskin di Bojonegoro tetap tidak menunjukan signifikasi mobilitas ekonomi sosialnya. Terutama mayarakat yang berada di permukiman sisi-sisi hutan daerah perbatasan.

Rabu, 05 Maret 2014

Model Banggar Building Negara Baru

     Minimalitas pembangunan dari dana maksimal, dimanakah anda mengetahui pertama kali bahasa ini? tweeter, fb, media massa, buku atau internet.

Selasa, 04 Maret 2014

MAHASISWA GOBLOK

Mahasiswa sekarang itu sok-sokan, padahal pada goblok, dan hanya sebagian saja yang pinter tapi kok gak nyadar, goblok kok dibanggakan... eee kalo ujian tu ya jangan yontek, smsn + on line malah, aneh nya lagi non formal sistemisasi para guru terlihat lebih menggoblokan dirinya dalam lubang yang sama. mahasiswa goblok itu tentu tak akan mampu memikirkan perut-perut orang miskin disekitarnya, kecuali memperkaya wawasan pikiranya, melebarkan peluang usahanya, mengejar link dan nilai untuk diri sendiri. percaya atau tidak inilah realitas sosial si mahasiswa goblok. Ada ada juga yang bangga dengan fashionnya padahal di pedalam kalimantan, sumatra, jawa, sulawesi, atau papua masih banyak yang hanya mampu mengenakan slndang dedaunan dan pelepah pohon. Bangga jua mahasiswa goblok dengan makanan serba enak, hiburan serba mewah, sedangkan disebrang sana donat dan TV saja tak ada, apa lagi listrik. Dimana-mana mahasiswa mayoritas bisa tertawa dengan nasibnya atau sedikit merendah bahwa dirinya yang paling susah di Indonesia dalam pengakuanya. Padahal di sebelah lautan masyarakat yang kaya akan alamnya sempat mengeluh kepada negara kalau kekayaanya dicuri orang dan masyarakatnya tidak mendapat jatah kecuali sekedar ucapan terimakasih. Puing budaya kegoblokan kok dibarkan, anehnya jawanya mereka pas aku tanya."mau bagaimana lagi kalau sudah budaya kita dituntut begitu." Apakah tetap bangga kita dengan sebutan mahasiswa goblok, kalau bangga ya silahkan kuliah pulang-kuliah pulang. selain itu jangan pernah berfikir jua jadi politikis kampus akan dapat merubah tatanan masyarakat. kalau kita mahasiswa goblok tidak mampu mambantu beberapa permasalahan masyarakat di desa kita. jangan bangga juga akan nilai bagus, pakaian bagus, berembel-embel keyakinan, namun kita melupakan etika dan falsafah pancasila serta bhinika tunggal ika. maka jika anda tetap demikian dengan ketidak sadaran silahkan menjadi mahasiswa goblok saja. dan selanjutnya nasip kita akan merasakan kekayaan dalam mimpi, serba kekurang materi akibat ulah para pencuri.