Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 September 2014

Resensi Buku Riwajat Indonesia (Prof. DR. Poerbatjaraka)


Judul Buku      : RIWAJAT INDONESIA
Pengarang       : karya Prof. DR. Poerbatjaraka
Edisi                : Jilid Satu
Penerbit           : Jajasan Pembangunan Djakarta
Tebal Buku      : 66 Halaman
Tahun Terbit    : -
Tebal Kertas     : -

Jumat, 30 Mei 2014

Pramoedya Ananta Toer_Jalan Raya Pos, Jalan Daendels


http://sejarawanmuda.files.wordpress.com/2011/04/jalan_raya_pos_b.jpgJudul      : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Penulis   : Pramoedya  Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan  : 9, April 2012 (Cetakan 1, Oktober 2005)
Tebal      : 145  hal
ISBN      : 979-97312-8-3

Buku karangan Pramoedya Ananta Toer dengan judul “Jalan Raya Pos, Jalan Deandels” ini berusaha mengisahkan kekuatan Mr. Herman Willem Deandels atau kerapa dikenal Jenderal Deandels sang putra Guntur. Hanya sekitar kurang lebih satu tahun saja anatara 1808-1809  Ia sukses memperlebar dan memperbaiki Jalan raya sejauh 1.000 Km dari Ayer samapai Panarukan.
Dalam buku tersebut Pram juga berusaha menggambarkan kutiban masyarakat Jawa yang diarak secara paksa melalui beberapa penaklukan para penguasa Jawa. Lalu, masyarkat dan para raja yang tak berdaya dengan kekuatan putra Guntur begitu tak kenal kompromi mengakibatkan darah-darah bercacaran dari ujug Timur sampai Barat pulau Jawa. 

Resensi Buku Pramoedya, Judul "Bukan pasar Malam"


http://www.lendabook.co/images/book/bukan_pasar_malam_b.jpgBuku Pramoedya Ananta Toer dengan Judul “Bukan Pasar Malam” yang berusaha menggambarkan kehebatan seorang laki-laki berkumis tebal, tak lain ayahnya sendiri, Mastoer Imam Bajoeri. Dimana ketika masa mudanya ia berusaha menyamar menjadi kaki tangan kaum Kolonial, tetapi pada akhirnya ia tetap bersikukuh berjuang demi jalan Kemerdekaan Indonesia.
  
    “Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun kembali pulang… seperti dunia pasar malam. Seseorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana,” pesan Pram dalam bukunya.