Hari jum’at
pagi kali ini terasa dingin seperti biasanya. Tapi mungkin bedanya lebih tenang
saja suasananya. Karena aku lihat ratusan siswa pulang, setelah melakukan
upacara hari pendidikan nasional, yang jatuh pada tanggal 2 mei. Selain itu, aku
sedang berada disampingnya pakde suro. Pakdeku yang paling jenius dalam bidang
pembinaan dan pembentukan karakter seorang anak. Aku senang dan tenang sekali.
“Pakde kita
istirahat di warung itu ya, lumayan kalau nanti sekiranya harga nasinya murah atau
mungkin bersantai-santai untuk menhabiskan waktu pagi ini dan memesan beberapa
macam minuman untuk kita nikmati teguk demi teguknya,!” ujar raden pada pakde
suro saat melewati lintasan setelah pulang dari gedung dewan guru.
“Iya udah
ayo.” Untuk beberapa menit pakde diam dan bersila sambil menatap seluruh
gerakan raden.
“Le, tak omongi gelem gak? Tapi ngko ojo kondo sopo-sopo !”
“Iya pakde,
apa pakde?”
“Kepala
sekolahmu iki kok koyok’e gak paham keadaane sekolahe dewe yo le !”
“Loh,
bagaimana maksudnya pakde? Raden kurang paham maksudnya pakde ngomong begitu !”
Dengan amat
hati-hati pakde suro berusaha mendekatkan badannya pada raden. Sembari demikian,
pakde suro sambil menaruh bibirnya dihadapan muka raden. Kehati-hatian pakde
suro amat diperhitungkan betul, karena ia takut apa yang akan


